ini adalah apa yang ingin aku tulis tentang apapun dikala setengah melek setengah bangun,,,apa saja yang keluar boleh-boleh saja, kali ini tidak ada batasan, mata sudah mulai riyep-riyep dan tangan masih terus bergerak mengeluarkan tinta dari bulpennya, aku sekali maneh cuma mau nyampah aja, jadi gak usah protes cz semua bakal fine-fine aja, biarlah aku coba, coba-coba iseng-iseng sampai berapa lama aku bertahan fighting, chayo Je, semangati diri dewe meski sedang mau turu, terus, terus saja nulisna sampe matamu ga iso mbuka, 15 menit itu lama, lha ini 5 menit saja belum sampe. teruskan saja sampe habis. eh iya, barusan tadi sore sejak kemaren pagi aku lihat info manohara, huru-hara huru-hara menyelimuti dua negara mulai dari ’sigitan-lipadan’ merambah negara raja. huh,,,, sudah mulai pusing, tinggal 5 watt, biar itu jadi urusan mereka, sudah waktunya ku kata gudbay, gudnait, si yuu tumoro,,,,
Sepenggal percakapan antara dua tokoh dalam cerita itu. Mengeja, membaca, & menyuarakan suara yang tak tersuarakan. Ketika kepala sibuk berencana, melayang-layang dalam lamunan, seringkali kali kita tidak menyadari bahwa hati kita juga berbicara, dengan alam, dengan hati-hati yang lain, dan bahkan mungkin dengan malaikat.
,,, ,,, ,,,
X: “Bagaimana kita bisa tau sesuatu itu firasat atau bukan?”.
Y: ”Kamu harus cek ke dalam” (ucap si Y sambil meletakkan jari di dadanya), ”dan cek keluar. Pesan yangsama biasanya datang berulang. Lewat suara hati, atau gejala alam. Dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu”
X: ”lalu,,, kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan Firasat saya, lantas apa?”
Y: ”kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Jika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, Cuma bikin kamu lelah.”
X: ”perlukah saya memperingatkan orang lain?. Apakah ketika saya kasih peringatan kepada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal?”
Dan tiba-tiba Y berjalan ke arah X, duduk dihadapannya, dan menatapnya lekat-lekat.
Y: ”Batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kamu rasa perlu memperingatkan pasti kamu dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”
X tak bergeming, dalam hati ia berbisik, ”aku tau kamu menunggu sesuatu. Kamu menunggu apakah aku mampu mengatakannya. Dan kamu tahu aku berusaha semampuku, menyusun abjad firasat yang membanjir di hati ini dalam komposisi yang bisa diucapkan. Dan meski mulutku setengah membuka, hati ini mendesak ingin bercerita, tapi tak ada kata yang keluar. Satu pun tidak. Aku cuma menangis”
X: ”Lantas untuk apa seseorang tau sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa di ubah?”
Y: ”Sepertinya itu pertanyaan semua orang yang punya pengalaman dengan firasat”, ,,,, ”kita tidak tahu dan tak akan pernah tahu hingga semuanya berlalu. Benar-atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan hanya waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu untuk apa?, untuk apa tahu sebelum waktunya?” ,,, ”memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat justru menjadi siksa.”
X: ”jadi untuk apa??!!”
Y: ”untuk belajar menerima, belajar berdamai dengan diri, dengan hidup”
,,, ,,,, ,,,,
Percakapan selesai dalam hening. Mereka sibuk dalam kemelut pemikiran dan firasat masing-masing, yang mereka ketahui saling berhubungan.
<RectoVerso_’Firasat’>
NB:
Untuk saudara-saudaraku, terutama yang ada di daerah sekitar bendungan Situ Gintung. May Allah always help, protect n never stop 4 strengthening u all.
Untuk pemerintah, Plis,,, tolong. Buat apa Anda2 punya kekuasaan?? plis po’o,,, mana pelayanan Anda2 sekalian wahai tuan-tuan terhormat, yang lupa dimana letak kehormatan kalian.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Begitu dekat, tapi ternyata jauh.
Rasanya sangat jauh, tapi sebenarnya dekat
Hanya karena ketidakberanian untuk meminta
Hanya kerena ketidakberanian untuk bertanya.
Sumprit, rasanya hatiku nyesek banget.
Melihat punggung itu semakin menjauh pergi.
Is this the end?, I do hope, it ain’t.
I really don’t want it
Dan hatiku nyesek . tanpa terasa ada titik air menyeruak paksa di sudut kedua mataku.
Reflek, aku pengen nangis.
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
ketidak pastian dalam hidup bisa jadi merupakan suatu hal yang menakutkan, tapi,,, bukankah seninya hidup itu justru terletak pada ketidakpastian, unsur kejutan, serta resiko,,,??
hehm,,, do hope i’ m able to comfort with those as soon as possible,,,
SMILE,,,!!! keep Chayo ZaAAAANK!!!! FIGHT!!!!
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Andai saya bisa
Saya hanya ingin menjadi manusia saja.
Manusia dengan baju manusia
Andai itu bisa
Tapi, apa iya seh itu benar-benar ndak bisa?
Manusia, manusia, manusia
E,,alah!, cuman pengen jadi manusia saja kok repot amat.
Eh, tapi bukannya susah seh,,,
Hanya saja, sangat sedikit gampangnya,,,
No body’s perfect in this world
Bicez we just human being, as usual
No body’s perfect in this world
Bicez we just human being, as usual
Forgive me Mr & Mrs ‘Human’
0608,by Pooh’06
Posted in pura-pura nyastra | Tagged Just NgRubish! (myb?) | Leave a Comment »
“Rutinitas adalah kebosanan, dan kebosanan sama sekali tidak menarik untuk di kisahkan, di tuliskan, atau diapakanlah–sama sekali tidak–kecuali kalau rutinitas itu di sulap menjadi pengalaman pertama kembali. Dan itu suer!, sulit Jek!, hanya seorang yang berkapasitas samurai saja yang bisa melakukan itu!”
Whoiiii!!!!! Tuan atau Nyonya Samurai!!!, siapapun dan dimanapun kalian berada, ajari aku po’o,,,!!!! Pliss,,,!!! L L L (T..T)
Posted in bla | Tagged Just NgRubish! (myb?) | Leave a Comment »
SEKEDAR OBROLAN TENTANG 100 TAHUN ‘HarKitNas’
As we know, di bulan ini, Mei 2008, di Indonesia diperingati dua hari besar nasional. Hari Pendidikan Nasional (HarDikNas) dan Hari Kebangkitan Nasional (HarKitNas). Dan dua orang pemuda, sedang asik terperangkap dalam obrolan tentang sesuatu yang (mungkin) kurang penting, tapi sesuai momen lah,,,.
+ Well, ndak terasa yak, peringatan HarKitNas tahun ini udah mencapai angka 100 tahun. WoW!!!, 100 Tahun Man,,,!!!. Can U imagine that?!, 100 taun gitu lox!!.
= So what dengan 100 taun kebangkitan nasional??
+ Ya harusnya kita bangga dunk,,, respect gitu, sama angkatan 1908. Soalnya karena mereka, Indonesia waktu itu akhirnya punya mimpi untuk menjadi negara merdeka. Mereka pula toh yg jadi salah satu antiseden munculnya angkatan 1928 dan 1945 yang ‘busyet-dah-KeREn-Abeeest!’. Bayangin aja, mimpi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka, yang waktu itu dikatakan nyaris tak mungkin, e,,, ternyata terkabul. Hebat to mereka?
= So What ???
+ So what, so what, gimana toh maksudmu???
= Ya,,, aku seh berharapnya peringatan kali ini bukan cuman luapan euforia sesaat. Moga aja peringatan HarKitNas tahun ini—yang Megah dan Spektakuler, sampe-sampe semua stasiun TV seluruh Indonesia layak untuk menyiarkan SERENTAK—tidak menjadi suatu yang mubazir, hanya karena kita ndak tau bagaimana meluapkan perasaan yang tidak kita pahami dan sadari.
+ Maksudmu, memperingati HarKitNas iki dalam keadaan tidak sadar gitu?
= Entahlah, apakah benar-benar tidak sadar atau sengaja menidak-sadarkan diri dan tutup mata, entahlah.
+ kamu ini kenapa to?, wong ko’ mbulet karepe dewe, ga paham aku. Yang kamu maksud sama ‘keadaan-tidak-sadar’ itu yang kayak gimana toh?
= Entahlah Kawan. Mungkin aku memang orang yang aneh, dan mungkin lebih parah nggak-sadar-nya jika dibanding sama banyak dari kalian. Ketika aku mengutarkan apa yang aku omongin diatas, sama sekali bukan berarti aku bermaksud gimana-gimana dengan peringatan HarKitNas ini. Tapi, nggak tau kenapa, aku il-feel. Menurutku nggak ada yang istimewa. 20 Mei 2008, nggak lebih seperti hari-hari biasanya, sama juga kayak 20 mei- 20mei di tahun-tahun sebelum 2008. Satu hal yang membuat beda, mungkin karena pada tanggal 20 Mei 2008 malam, ada perhelatan peringatan 100 taun HarKitNas yang Gede-gedean (Gede panggungnya, Gede siarannya, Gede biaya produksinya, dan yang pasti Gede untungnya lah,,,).
Ya,,, bukan bermaksud gimana-gimana, aku cuma nyoba belajar bertanya pada diriku sendiri aja, apa iya ini benar-benar peringatan yang gegap gempita seperti sebagaimana adanya yang terlihat?. Atau jangan-jangan peringatan ini merupakan salah satu representasi cara kita mengungkapkan perasaan getir dan putus asa?. Ironi memang. Dan apakah memang hanya dengan seperti inikah kita memperingati dan merefleksi perjuangan-perjuangan angkatan 1908, angkatan 1928, dan angkatan 1945?. Apakah yang seperti itu sudah cukup layak?. Sementara beberapa hari yang lalu, aku baru saja ketemu sama bulek ku, yang curhat tentang keadaan sekolahnya. Beliau berprofesi sebagai Guru di salah satu SLB (Sekolah Luar Biasa) di Surabaya. Waktu itu beliau bercerita tentang masih belum adilnya pemberian fasilitas sarana-prasarana yang diberikan pemerintah kepada sekolahnya jika dibadingkan dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya. Padahal kita tahu, apa yang ditangani oleh para Guru di SLB justru jauh lebih komplek jika dibandingkan dengan sekolah negeri umum.
Beberapa hari sebelumnya, kebetulan juga aku ketemu sama salah satu tetanggaku yang mengeluhkan anaknya yang stress gara-gara saking kuatirnya nggak lulus UAN.
Belum lagi ketika aku di curhati sama ibuku tentang ketidak jelasan dana BOS yang seharusnya jadi haknya SDN dimana ibuku mengajar. Bayangin aja, dari total 150 juta dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah pusat, ternyata hanya 55 juta saja yang benar-benar sampe di tangan Kepala sekolah. Dana sebesar 55 juta itu adalah dana untuk perbaikan sarana dan prasarana gedung sekolah, seperti ruang kelas dan perbaikan bangku-bangku. Terus terang aku nggak bisa membayangkan bagaimana bingungnya pak kepala sekolah memutar uang sebesar 55 juta untuk membeli material-material bangunan untuk perbaikan 4 ruang kelas, perbaikan bangku-bangku yang banyak rusak, dan belum lagi ongkos untuk tukang. Yup, cuman 55 juta. Tahukah kalian Kawan, uang sisa yang 95 juta, yang katanya dikelolakan oleh Diknas kabupaten?, dari situ sekolah hanya mendapatkan satu perangkat komputer yang biasa aja (bukan komputer yang canggih dan mahal) dan paket buku-buku pelajaran secukupnya (yang entahlah itu terpakai atau tidak). Dan semuanya total 95 juta.
Hmmmh,,,Heh!!!, memang bukan suatu hal yang sederhana ketika kita ngobrolin tentang masalah pendidikan. Karena masalah ‘pendidikan’ bukan cuma masalah belajar-mengajar, bukan cuma obrolan tentang sekolah formal. Ketika kita ngobrolin tentang pendidikan, mau ga’ mau kita akan terseret dalam obrolan yang pasti ada kaitannya dengan konteks sistem, terutama jika pendidikan itu berhubungan dengan pemerintah, negara, dan struktur kekuasaan.
Seperti halnya yang kita sama-sama tau, selama ini kita sangat tidak kekurangan wacana ataupun informasi yang mengangkat tentang masalah-masalah pendidikan di Indonesia. Sangat bermacam-macam. Dan selama ini pula, telah muncul berbagai macam wacana-wacana tandingan yang menawarkan jurus A sampai Z tentang solusi permasalahan pendidikan. Namun, seringkali jurus A sampai Z tersebut tidak malah menyelesaikan masalah, tapi justru menjadi bagian dari tambahan masalah. Lantas apa yang selama ini kita lakukan?, apakah yang selama ini kita anggap masalah adalah benar-benar (akar) masalahnya?, atau jangan-jangan yang selama ini muncul justru sesuatu yang memang tersetting sedemikian rupa untuk dimunculkan jadi masalah, sehingga permasalahan yang sebenarnya akan tetap aman tersembunyi?. What is d’ root of problemo kalo gitu?. Dan terus terang aja aku juga masih belum dapat jawabannya. Well,,, pendidikan,,, pendidikan. what can I do 4 u yak?, andai saja aku mampu menangkap pesan tersirat dari dinamika fenomenamu.
Tapi, gimanapun rumit dan kompleksnya masalah pendidikan di Indonesia, mau nggak mau itulah yang PR besar kita dan harus kita pecahkan bersama untuk benar-benar bisa membangkitkan bangsa.
+ Ya,,, bener juga ce,,,, so, kita musti mulai dari mana dunk?
= Nek menurutmu?
+ Kalo menurutku,,, em,,, ini subjektifitasku lo ya,,, masing-masing dari kita pertama kudu sepakat dulu tentang ‘apa-seh-makna-dari-pendidikan’. Kita kudu tau, selama ini kita pake ‘kaca-mata’ <paradigma> model kayak gimana ketika melihat ‘pendidikan’. esensinya pendidikan itu sebenernya untuk apa dan siapa?, harus kudu benar-benar dipahami dulu. Pendidikan untuk kesejahteraan rakyat atau pendidikan hanya untuk kepentingan negara aja?
= Terus?
+ Kalo’ kita mengacunya benar-benar yang model pancasilais sih, harusnya pendidikan untuk kesejahteraan rakyat dunk, wong jelas-jelas dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu misi negara Indonesia kan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan kehidupan negara.
= dan selama ini nyatanya?
+ yah,,, kita sama-sama tau lah,,, belum tercermin.
= ya,,, ya,,, memang seperti itulah. Oya sebagai tambahan, ketika kita ngobrolin tentang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan nation, kita nggak bakal bisa memahaminya secara utuh jika kita mengabaikan sistem dan iklim yang melingkupinya. Mulai dari sejarah kebudayaan, aspek psiko-sosiologis dan aspek antropologis, sampai struktur kekuasaan (dalam bentuk apapun) yang melingkupi suatu nation. Yup, seperti itulah kurang lebih yang dibilang sama pak Y.B. Mangunwijaya.
+ penjelasan lebih lanjutnya?
= seperti apa yang ditulis oleh pak Mangunwijaya dalam salah satu esainya yang berjudul ‘Strategi Pendidikan dan Struktur Kekuasaan’,
“sistem kolektif, suasana dan iklim intuisi dan emosi lingkungan masyarakat, belum lagi struktur warisan watak dan bakat keturunan dari sejarah nenek-moyang serta pola-pola masyarakat sangatlah berperan, bahkan itulah yang paling meraja. Iklim pendidikan beserta harapan-harapan dan citra masyarakat bekas jajahan mengenai yang disebut manusia terdidik dan kedudukan statusnya masih belum memerdekakan diri dari sistem kolonial/feodal, karena memang masyarakatnya masih berjiwa kolonial feodal. Semakin kolonialisme-feodalisme (praktis, bukan konseptual dipupuk, semakin kolonial/feodal juga dunia sekolah dan pendidikan. maka semakin kolonial/feodal lagiputra-putri hasil pendidikan semacam itu dan ya, lingkaran setan lagi.
Tidak ada gunanya kita mempersalahkan siapa pun. Yang kita hadapi bukan orang satu per satu, tetapi suatu “Struktureller Gewalt” (kekuasaan/kewenangan struktural yang masih mencekam negara-negara dan bangsa-bangsa bekas koloni. Struktureller Gewalt tidak memandang Orla atau Orba atau Orlain, tetapi adalah suatu super–dan sub–struktur, sistem inter-dan transnasional, kompleks dan berukuran jagad. Sangat kuasa dan sangat halus seperti virus masuk dalam tubuh tanpa nama “naamloze vennotschap” tetapi unlimited corporation dengan pemegang saham tak terbilang.”
Dalam esai ‘Ikan dalam Air’ beliau juga mengemukakan pemikirannya sebagai berikut:
“pendidikan adalah proses pengembangan pengetahuan dan karakter serta sikap hidup pada diri manusia/bangsa dalam arti utuh. Padahal pengetahuan pada khususnya, namun juga suatu sikap hidup pada infrastruktur karakter manusia/bangsa merupakan suatu betuk kekuasaan juga, paling sedikit kekuatan. Termasuk kekuatan politik dan ekonomi. Sebaliknya, kekuasaan politik/ekonomi tertentu akan reproduktif dan regeneratif menumbuhkan bentuk pendidikan tertentu pula yang sepadan. Demikianlah jalinan dan jaringan antara dunia pendidikan dan kekuasaan politik/ekonomi pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya tidak dapat dilepas satu dari yang lain.
Dengan kata lain: suatu konsepsi pembaharuan pendidikan tertentu MENGANDAiKAN dan sekaligus MENUMBUHKAN bahkan MENUNTUT pembaran politik/ekonomi tertentu juga. Suatu konsepsi pembaruan pendidikan tanpa menuntut suatu perubahan struktur serta iklim lingkungan kehidupan masyarakat masih semacam veileitas (kemauan ogah-ogahan). Yang dibutuhkan ialah kemauan efficax yang langsung bertindak pada praksis pelaksanaan. Setaraf dengan kemauan efficax pada tanggal 17 agustus 1945 dalam bidang politik. Bahkan dalam keragu-raguan, praksislah yang primer dan konsepnya sekunder.”
= Gimana?? Maksud??
+ ya,,,ya,,,ya,,, dalam proses mencerna. Wah,,, kayaknya kita perlu banget tuh belajar sejarah, terutama tentang iklim dan sistem pendidikan yang berhasil melahirkan angkatan 1908, 1928 dan 1945.
= Setuju,,,!!! Tapi kita tetep kudu menyesuaikan dengan iklim nation kita yang sekarang low,,, jangan asal maen jiplak aja. Soalnya gimana-gimana kita nggak bisa nyamain gitu aja iklim yang sekarang dengan iklim dulu, ya to??
Walaupun ada beberapa pola tertentu yang relatif masih sama terutama menyangkut masalah budaya kolonial/feodal.
+ yup, memang kita kudu terus belajar yak? Terutama belajar tentang sejarah…
Posted in bla | Tagged EduTalk'in | 2 Comments »
Tau Panji-’Kena Deh!’ kan?, dia bikin lagu Hip-Hop, udah tau juga kan?, kan dah nyebar bgt to beritanya?. Lha ini salah satu lirik lagu dlm albumnya itu,,,
Lyric: BAJAK LAGU INI
Category: Music
BAJAK LAGU INI
Produced by : Raben
Written by : Pandji
All Backing Vocals by : Pandji
CHORUS
(Bajak lagu ini)
Kalau suka lagu ini nggakpapa, bajak aja dan bantu gue sebarkan ke seluruh negri!
(Atau download nanti)
www.provocative-proactive.com download disana com
(Beli CD ini)
Setengah penghasilan CD akan diberikan untuk anak kanker dinaung C3
(Banggakan hati)
VERSE 1
Hari ini, berkata Pandji, tak peduli kalau karyanya kelak di bajak orang nanti
Ada kalanya para musisi utk mengerti, rakyat kita peduli dengan karya yang berarti.
Dalam arti, di negri ini, orang orang lupa kalau mereka juga mau untuk membeli.
Tapi ingat lagi…
Nggak semua hidup berkecukupan dengan sandang dan papan
Kita bisa berteriak sebangsa serempak, kita maju “Pendidikan adalah hakku!”
Kita minta pendidikan gratis, tapi kalau lagu dibajak mengapa nangis?
Musik adalah pendidikan, pembebasan dari pembelengguan, kebodohan, keminderan, jangan heran, kalau orang banyak yang berharap bisa mengecap musik dengan gratisan.
Bagai pendidikan.
Ingat teman, guru guru ini disejarah akan terekam:
John Lennon, Bob Dylan, Bob Marley, Bang Iwan, dan Marvin, dan Bono, dan Tupac!
VERSE 2
Hah! Gue tau elo benci, elo pikir gue bodoh atau mungin gue dipikir naif.
Jujur gue mengakui, gue bukan mau kaya dari album ini (hehehehe)
Karna itu, gue mikir lebih jernih.
Gue konsentrasi untuk bikin karya seni bukan jual CD.
Seperti stigma pegawai negri, masuk kantor untuk main tetris karna tidak peduli lagi…
Bedanya bekerja dan berkarya, kerja untuk uang, karya untuk kepuasan sendiri saja.
Kalau nyari uang kita fokus dengan metoda yang selama ini berhasil menghasilkan uang.
Repetisi.
Mengulangi pola aman.
Gimana mau berkembang? Kita harus hajar zona aman.
“Slama masuk jam 9, pulang jam 6, uang masuk tiap akhir bulan, AMAN”
Inikah kasus musisi?
Takut liat retur CD sehingga mulai lupa jati diri?
Lagi lagi gue akui, memang tidak mudah nyaman untuk jadi diri sendiri.
Takut dijauhi, tidak diterima oleh calon pembeli.
Penurunan angka CD bukanlah salah musikmu, tapi salah label yang punya metoda kian menjemu.
(seru yak?!
Posted in bla | Tagged seru2an ajja! | Leave a Comment »
Hua,,,hua,,,, huaaa,,,,,
Emaaaak,,,,,!!!!
Hiks,,,hiks,,,hiks,,,
Hhuaa,,,,huaa
terkadang sebel pas lihat aku termehek-mehek karena suatu hal yang nggak jelas, sumprit!. tapi, kadang lucu juga.
salah satu temenQ pernah bilang gini:
“salah satu momen yang paling menakutkan adalah ketika cewek udah mulai kambuh sentimentilitasnya, kenapa?, karena pas waktu itu
kadar emosi lebih banyak bekerja daripada kognisi…kalo terjadi pada co…maka akan terjadi “ketololan”…kalo pada cewek akan terbentuk sebuah energi yg membuatnya memiliki kemampuan n kemauan untuk meneror orang2 di sekitarnya”,,,,
OMG,,,,
oya?
apa iya ce???
hm,,,, aku pikir mungkin sekarang memang waktu yang tepat untuk meneror orang!
RRRRGH!!! AWAAAAAS,,,,, ADA BOOOM!!!!!
Posted in bla | Tagged Just NgRubish! (myb?) | 3 Comments »