Suatu hari mas sepupuku pernah bercerita padaku tentang anak laki-laki temenya. Ceritanya seperti ini:
“ eh aku tuh punya konco kuliah dulu, sekarang dia udah punya anak cowok, lucu banget”, mas ku mengawali ceritanya.
“oya”, responQ singkat, sambil mengipaskan koran ke wajahQ. Maklum siang itu di toko plastiknya masQ udaranya panas banget.
“pernah ada cerita yang menggelikan dari arek cilik iki, nek ingat cerita iku, jadi geli aku dibuatnya”.
“emang ceritanya gmn?”, tanyaku penasaran.
“Jdi kan gini. Waktu itu si anak iki masih umur sekitar 5 kalo g’ 6 tahunan. Lha suatu hari dia ini untuk pertama kalinya diajak bapaknya sholat jumat di masjid sekitar rumahnya. Setibanya di masjid, khotbah jumat udah mulai. Awalnya seh biasa aja, tapi pas anak itu ngeliat khotib, yang kebetulan pada waktu itu pakai pakaian yang serba putih, sedang ceramah, tiba-tiba anak iki berhenti. Diem ditempat. Lha bapak’e kan akhirnya heran toh, “lho dek kenapa berhenti”, tanya si bapak. dan kamu tahu apa yang keluar dari mulut si anak kecil iki?, si anak iki nyeletukin perntanyaan yang tak di sangka dan di duga,
“ ayah, ayah, itu tah, Tuhannya?”sambil nunjuk khotib yang ada di mimbar jumat. Dan si ayah (yang kebetulah telah jadi dosen) Cuma bisa tercengan mendengar pertanyaan anaknya itu.”
Well, entahlah cerita diatas ntu masuk ke cerita lucu ato g, aku sendiri belum mengkategorikannya. Entahlah apa yang ada dipikiran anak kecil tsb waktu itu. Hemh,,, pertanyaan tentang Tuhan keluar dari bocah berumur 5-6 taun, wajar memang. Dan mungkin kita dulu, pas anak-anak, juga punya pertanyaan2 semacam itu. Namun, semakin kita dewasa apakah kita udah benar-benar mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang kita yakini?. Apakah kita masih terus gigih menggali tentang hal-hal tersebut?. Atau mungkin muncul dlam pikiran kita bahwa itu cuman pertanyaan-pertanyaan masa anak-anak yang nggak penting?. Setiap orang punya jawaban masing-masing.
Memang benar apa yang dikatakan pak Hernowo dalam serial Smart Booknya yg edisi ketiga, bahwa Tuhan tuh Misteri paling agung dan paling tinggi dalam kehidupan. Lantas gimana ketika manusia memasuki wilayah yang ditempat itu sso harus mencari Tuhan?. Mungkin satu kalimat yang bisa dijadikan bekal. Kata-kata yang udah berusia sekian belas abad. Kata-kata dari Rumi itu bilang, “Barang siapa mengetahui dirinya, niscaya dia pun akan mengetahui Tuhannya”.