SEKEDAR OBROLAN TENTANG 100 TAHUN ‘HarKitNas’
As we know, di bulan ini, Mei 2008, di Indonesia diperingati dua hari besar nasional. Hari Pendidikan Nasional (HarDikNas) dan Hari Kebangkitan Nasional (HarKitNas). Dan dua orang pemuda, sedang asik terperangkap dalam obrolan tentang sesuatu yang (mungkin) kurang penting, tapi sesuai momen lah,,,.
+ Well, ndak terasa yak, peringatan HarKitNas tahun ini udah mencapai angka 100 tahun. WoW!!!, 100 Tahun Man,,,!!!. Can U imagine that?!, 100 taun gitu lox!!.
= So what dengan 100 taun kebangkitan nasional??
+ Ya harusnya kita bangga dunk,,, respect gitu, sama angkatan 1908. Soalnya karena mereka, Indonesia waktu itu akhirnya punya mimpi untuk menjadi negara merdeka. Mereka pula toh yg jadi salah satu antiseden munculnya angkatan 1928 dan 1945 yang ‘busyet-dah-KeREn-Abeeest!’. Bayangin aja, mimpi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka, yang waktu itu dikatakan nyaris tak mungkin, e,,, ternyata terkabul. Hebat to mereka?
= So What ???
+ So what, so what, gimana toh maksudmu???
= Ya,,, aku seh berharapnya peringatan kali ini bukan cuman luapan euforia sesaat. Moga aja peringatan HarKitNas tahun ini—yang Megah dan Spektakuler, sampe-sampe semua stasiun TV seluruh Indonesia layak untuk menyiarkan SERENTAK—tidak menjadi suatu yang mubazir, hanya karena kita ndak tau bagaimana meluapkan perasaan yang tidak kita pahami dan sadari.
+ Maksudmu, memperingati HarKitNas iki dalam keadaan tidak sadar gitu?
= Entahlah, apakah benar-benar tidak sadar atau sengaja menidak-sadarkan diri dan tutup mata, entahlah.
+ kamu ini kenapa to?, wong ko’ mbulet karepe dewe, ga paham aku. Yang kamu maksud sama ‘keadaan-tidak-sadar’ itu yang kayak gimana toh?
= Entahlah Kawan. Mungkin aku memang orang yang aneh, dan mungkin lebih parah nggak-sadar-nya jika dibanding sama banyak dari kalian. Ketika aku mengutarkan apa yang aku omongin diatas, sama sekali bukan berarti aku bermaksud gimana-gimana dengan peringatan HarKitNas ini. Tapi, nggak tau kenapa, aku il-feel. Menurutku nggak ada yang istimewa. 20 Mei 2008, nggak lebih seperti hari-hari biasanya, sama juga kayak 20 mei- 20mei di tahun-tahun sebelum 2008. Satu hal yang membuat beda, mungkin karena pada tanggal 20 Mei 2008 malam, ada perhelatan peringatan 100 taun HarKitNas yang Gede-gedean (Gede panggungnya, Gede siarannya, Gede biaya produksinya, dan yang pasti Gede untungnya lah,,,).
Ya,,, bukan bermaksud gimana-gimana, aku cuma nyoba belajar bertanya pada diriku sendiri aja, apa iya ini benar-benar peringatan yang gegap gempita seperti sebagaimana adanya yang terlihat?. Atau jangan-jangan peringatan ini merupakan salah satu representasi cara kita mengungkapkan perasaan getir dan putus asa?. Ironi memang. Dan apakah memang hanya dengan seperti inikah kita memperingati dan merefleksi perjuangan-perjuangan angkatan 1908, angkatan 1928, dan angkatan 1945?. Apakah yang seperti itu sudah cukup layak?. Sementara beberapa hari yang lalu, aku baru saja ketemu sama bulek ku, yang curhat tentang keadaan sekolahnya. Beliau berprofesi sebagai Guru di salah satu SLB (Sekolah Luar Biasa) di Surabaya. Waktu itu beliau bercerita tentang masih belum adilnya pemberian fasilitas sarana-prasarana yang diberikan pemerintah kepada sekolahnya jika dibadingkan dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya. Padahal kita tahu, apa yang ditangani oleh para Guru di SLB justru jauh lebih komplek jika dibandingkan dengan sekolah negeri umum.
Beberapa hari sebelumnya, kebetulan juga aku ketemu sama salah satu tetanggaku yang mengeluhkan anaknya yang stress gara-gara saking kuatirnya nggak lulus UAN.
Belum lagi ketika aku di curhati sama ibuku tentang ketidak jelasan dana BOS yang seharusnya jadi haknya SDN dimana ibuku mengajar. Bayangin aja, dari total 150 juta dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah pusat, ternyata hanya 55 juta saja yang benar-benar sampe di tangan Kepala sekolah. Dana sebesar 55 juta itu adalah dana untuk perbaikan sarana dan prasarana gedung sekolah, seperti ruang kelas dan perbaikan bangku-bangku. Terus terang aku nggak bisa membayangkan bagaimana bingungnya pak kepala sekolah memutar uang sebesar 55 juta untuk membeli material-material bangunan untuk perbaikan 4 ruang kelas, perbaikan bangku-bangku yang banyak rusak, dan belum lagi ongkos untuk tukang. Yup, cuman 55 juta. Tahukah kalian Kawan, uang sisa yang 95 juta, yang katanya dikelolakan oleh Diknas kabupaten?, dari situ sekolah hanya mendapatkan satu perangkat komputer yang biasa aja (bukan komputer yang canggih dan mahal) dan paket buku-buku pelajaran secukupnya (yang entahlah itu terpakai atau tidak). Dan semuanya total 95 juta.
Hmmmh,,,Heh!!!, memang bukan suatu hal yang sederhana ketika kita ngobrolin tentang masalah pendidikan. Karena masalah ‘pendidikan’ bukan cuma masalah belajar-mengajar, bukan cuma obrolan tentang sekolah formal. Ketika kita ngobrolin tentang pendidikan, mau ga’ mau kita akan terseret dalam obrolan yang pasti ada kaitannya dengan konteks sistem, terutama jika pendidikan itu berhubungan dengan pemerintah, negara, dan struktur kekuasaan.
Seperti halnya yang kita sama-sama tau, selama ini kita sangat tidak kekurangan wacana ataupun informasi yang mengangkat tentang masalah-masalah pendidikan di Indonesia. Sangat bermacam-macam. Dan selama ini pula, telah muncul berbagai macam wacana-wacana tandingan yang menawarkan jurus A sampai Z tentang solusi permasalahan pendidikan. Namun, seringkali jurus A sampai Z tersebut tidak malah menyelesaikan masalah, tapi justru menjadi bagian dari tambahan masalah. Lantas apa yang selama ini kita lakukan?, apakah yang selama ini kita anggap masalah adalah benar-benar (akar) masalahnya?, atau jangan-jangan yang selama ini muncul justru sesuatu yang memang tersetting sedemikian rupa untuk dimunculkan jadi masalah, sehingga permasalahan yang sebenarnya akan tetap aman tersembunyi?. What is d’ root of problemo kalo gitu?. Dan terus terang aja aku juga masih belum dapat jawabannya. Well,,, pendidikan,,, pendidikan. what can I do 4 u yak?, andai saja aku mampu menangkap pesan tersirat dari dinamika fenomenamu.
Tapi, gimanapun rumit dan kompleksnya masalah pendidikan di Indonesia, mau nggak mau itulah yang PR besar kita dan harus kita pecahkan bersama untuk benar-benar bisa membangkitkan bangsa.
+ Ya,,, bener juga ce,,,, so, kita musti mulai dari mana dunk?
= Nek menurutmu?
+ Kalo menurutku,,, em,,, ini subjektifitasku lo ya,,, masing-masing dari kita pertama kudu sepakat dulu tentang ‘apa-seh-makna-dari-pendidikan’. Kita kudu tau, selama ini kita pake ‘kaca-mata’ <paradigma> model kayak gimana ketika melihat ‘pendidikan’. esensinya pendidikan itu sebenernya untuk apa dan siapa?, harus kudu benar-benar dipahami dulu. Pendidikan untuk kesejahteraan rakyat atau pendidikan hanya untuk kepentingan negara aja?
= Terus?
+ Kalo’ kita mengacunya benar-benar yang model pancasilais sih, harusnya pendidikan untuk kesejahteraan rakyat dunk, wong jelas-jelas dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu misi negara Indonesia kan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan kehidupan negara.
= dan selama ini nyatanya?
+ yah,,, kita sama-sama tau lah,,, belum tercermin.
= ya,,, ya,,, memang seperti itulah. Oya sebagai tambahan, ketika kita ngobrolin tentang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan nation, kita nggak bakal bisa memahaminya secara utuh jika kita mengabaikan sistem dan iklim yang melingkupinya. Mulai dari sejarah kebudayaan, aspek psiko-sosiologis dan aspek antropologis, sampai struktur kekuasaan (dalam bentuk apapun) yang melingkupi suatu nation. Yup, seperti itulah kurang lebih yang dibilang sama pak Y.B. Mangunwijaya.
+ penjelasan lebih lanjutnya?
= seperti apa yang ditulis oleh pak Mangunwijaya dalam salah satu esainya yang berjudul ‘Strategi Pendidikan dan Struktur Kekuasaan’,
“sistem kolektif, suasana dan iklim intuisi dan emosi lingkungan masyarakat, belum lagi struktur warisan watak dan bakat keturunan dari sejarah nenek-moyang serta pola-pola masyarakat sangatlah berperan, bahkan itulah yang paling meraja. Iklim pendidikan beserta harapan-harapan dan citra masyarakat bekas jajahan mengenai yang disebut manusia terdidik dan kedudukan statusnya masih belum memerdekakan diri dari sistem kolonial/feodal, karena memang masyarakatnya masih berjiwa kolonial feodal. Semakin kolonialisme-feodalisme (praktis, bukan konseptual dipupuk, semakin kolonial/feodal juga dunia sekolah dan pendidikan. maka semakin kolonial/feodal lagiputra-putri hasil pendidikan semacam itu dan ya, lingkaran setan lagi.
Tidak ada gunanya kita mempersalahkan siapa pun. Yang kita hadapi bukan orang satu per satu, tetapi suatu “Struktureller Gewalt” (kekuasaan/kewenangan struktural yang masih mencekam negara-negara dan bangsa-bangsa bekas koloni. Struktureller Gewalt tidak memandang Orla atau Orba atau Orlain, tetapi adalah suatu super–dan sub–struktur, sistem inter-dan transnasional, kompleks dan berukuran jagad. Sangat kuasa dan sangat halus seperti virus masuk dalam tubuh tanpa nama “naamloze vennotschap” tetapi unlimited corporation dengan pemegang saham tak terbilang.”
Dalam esai ‘Ikan dalam Air’ beliau juga mengemukakan pemikirannya sebagai berikut:
“pendidikan adalah proses pengembangan pengetahuan dan karakter serta sikap hidup pada diri manusia/bangsa dalam arti utuh. Padahal pengetahuan pada khususnya, namun juga suatu sikap hidup pada infrastruktur karakter manusia/bangsa merupakan suatu betuk kekuasaan juga, paling sedikit kekuatan. Termasuk kekuatan politik dan ekonomi. Sebaliknya, kekuasaan politik/ekonomi tertentu akan reproduktif dan regeneratif menumbuhkan bentuk pendidikan tertentu pula yang sepadan. Demikianlah jalinan dan jaringan antara dunia pendidikan dan kekuasaan politik/ekonomi pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya tidak dapat dilepas satu dari yang lain.
Dengan kata lain: suatu konsepsi pembaharuan pendidikan tertentu MENGANDAiKAN dan sekaligus MENUMBUHKAN bahkan MENUNTUT pembaran politik/ekonomi tertentu juga. Suatu konsepsi pembaruan pendidikan tanpa menuntut suatu perubahan struktur serta iklim lingkungan kehidupan masyarakat masih semacam veileitas (kemauan ogah-ogahan). Yang dibutuhkan ialah kemauan efficax yang langsung bertindak pada praksis pelaksanaan. Setaraf dengan kemauan efficax pada tanggal 17 agustus 1945 dalam bidang politik. Bahkan dalam keragu-raguan, praksislah yang primer dan konsepnya sekunder.”
= Gimana?? Maksud??
+ ya,,,ya,,,ya,,, dalam proses mencerna. Wah,,, kayaknya kita perlu banget tuh belajar sejarah, terutama tentang iklim dan sistem pendidikan yang berhasil melahirkan angkatan 1908, 1928 dan 1945.
= Setuju,,,!!! Tapi kita tetep kudu menyesuaikan dengan iklim nation kita yang sekarang low,,, jangan asal maen jiplak aja. Soalnya gimana-gimana kita nggak bisa nyamain gitu aja iklim yang sekarang dengan iklim dulu, ya to??
Walaupun ada beberapa pola tertentu yang relatif masih sama terutama menyangkut masalah budaya kolonial/feodal.
+ yup, memang kita kudu terus belajar yak? Terutama belajar tentang sejarah…
SALAM KENAL
ikutan salam kenal! hehe…
dz4ki.blogspot.com