Sepenggal percakapan antara dua tokoh dalam cerita itu. Mengeja, membaca, & menyuarakan suara yang tak tersuarakan. Ketika kepala sibuk berencana, melayang-layang dalam lamunan, seringkali kali kita tidak menyadari bahwa hati kita juga berbicara, dengan alam, dengan hati-hati yang lain, dan bahkan mungkin dengan malaikat.
,,, ,,, ,,,
X: “Bagaimana kita bisa tau sesuatu itu firasat atau bukan?”.
Y: ”Kamu harus cek ke dalam” (ucap si Y sambil meletakkan jari di dadanya), ”dan cek keluar. Pesan yangsama biasanya datang berulang. Lewat suara hati, atau gejala alam. Dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu”
X: ”lalu,,, kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan Firasat saya, lantas apa?”
Y: ”kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Jika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, Cuma bikin kamu lelah.”
X: ”perlukah saya memperingatkan orang lain?. Apakah ketika saya kasih peringatan kepada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal?”
Dan tiba-tiba Y berjalan ke arah X, duduk dihadapannya, dan menatapnya lekat-lekat.
Y: ”Batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kamu rasa perlu memperingatkan pasti kamu dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”
X tak bergeming, dalam hati ia berbisik, ”aku tau kamu menunggu sesuatu. Kamu menunggu apakah aku mampu mengatakannya. Dan kamu tahu aku berusaha semampuku, menyusun abjad firasat yang membanjir di hati ini dalam komposisi yang bisa diucapkan. Dan meski mulutku setengah membuka, hati ini mendesak ingin bercerita, tapi tak ada kata yang keluar. Satu pun tidak. Aku cuma menangis”
X: ”Lantas untuk apa seseorang tau sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa di ubah?”
Y: ”Sepertinya itu pertanyaan semua orang yang punya pengalaman dengan firasat”, ,,,, ”kita tidak tahu dan tak akan pernah tahu hingga semuanya berlalu. Benar-atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan hanya waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu untuk apa?, untuk apa tahu sebelum waktunya?” ,,, ”memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat justru menjadi siksa.”
X: ”jadi untuk apa??!!”
Y: ”untuk belajar menerima, belajar berdamai dengan diri, dengan hidup”
,,, ,,,, ,,,,
Percakapan selesai dalam hening. Mereka sibuk dalam kemelut pemikiran dan firasat masing-masing, yang mereka ketahui saling berhubungan.
<RectoVerso_’Firasat’>
NB:
Untuk saudara-saudaraku, terutama yang ada di daerah sekitar bendungan Situ Gintung. May Allah always help, protect n never stop 4 strengthening u all.
Untuk pemerintah, Plis,,, tolong. Buat apa Anda2 punya kekuasaan?? plis po’o,,, mana pelayanan Anda2 sekalian wahai tuan-tuan terhormat, yang lupa dimana letak kehormatan kalian.
RectoVerso, “malaikat juga tahu” juga bagus