Feeds:
Posts
Comments

Berita koran pagi, kemarin hari. Seorang siswi SMA peserta UAN dikabarkan pingsan lalu mati. Konon kabarnya, ia stress dan drop krn tak sempat sarapan pagi. Setelah dimintai konfirmasi hari ini, siswi tersebut hanya berkomentar singkat, “ya,,,, memang sudah waktunya saya ‘pergi’, saya harap teman-teman pers bisa mengerti, ini tidak ada kaitannya dengan pak menteri”.  Ia pun melenggang pergi, tak kan kembali.

Advertisements

Malam semakin larut menuju pagi. Bersama detak syahdu jarum jam, ia pun semakin sibuk meninabobokan dirinya yang sedang terjaga dalam tidur pulasnya.

Pagi ini, ia beranjak dari tempat tidur tepat setelah jam dinding itu berhasil mendaratkan jarum-jarum detik tepat ke matanya.  Ia murka!, atas perlakuan ini, sampai ia lupa bahwa jam dinding adalah dirinya sendiri.

Singkat Pertengkaran

“Sampai aku mati, aku tidak akan mengijinkanmu memakai jilbab, tidak akan!!”, teriak seorang ibu kepada anaknya.
sambil memelas si anak menjawab, “tetapi Ibu,,,ini adalah hidup saya dan pilihan saya”
“Baik, jika itu maumu, jangan pernah anggap aku ibumu!!!”
“Ibu,,,!! aku hanya ingin menjalani hidupku, Mengapa hanya untuk memberi restu saja Ibu tidak Bisa”
“Mengapa??! Kau tanya Mengapa? Ha!”, ibu tercekat dalam marah.
“Hanyakah karena anakmu ini bukan perempuan, Bu?!”.

Suatu siang di hari Jumat. Seorang anak, berusia sekitar 4-5 tahun, memasuki masjid untuk pertama kali, bersama Ayahnya. Di dalam masjid, Ia melihat ke arah mimbar, bersamaan dengan itu ia menarik-narik lengan sang Ayah dan bertanya “Ayah, Ayah, itu ta Tuhannya?”, sambil menunjuk satu sosok berpakaian putih yang sedang berbicara di mimbar khutbah

ini adalah apa yang ingin aku tulis tentang apapun dikala setengah melek setengah bangun,,,apa saja yang keluar boleh-boleh saja, kali ini tidak ada batasan, mata sudah mulai riyep-riyep dan tangan masih terus bergerak mengeluarkan tinta dari bulpennya, aku sekali maneh cuma mau nyampah aja, jadi gak usah protes cz semua bakal fine-fine aja, biarlah aku coba, coba-coba iseng-iseng sampai berapa lama aku bertahan fighting, chayo Je, semangati diri dewe meski sedang mau turu, terus, terus saja nulisna sampe matamu ga iso mbuka, 15 menit itu lama, lha ini 5 menit saja belum sampe. teruskan saja sampe habis. eh iya, barusan tadi sore sejak kemaren pagi aku lihat info manohara, huru-hara huru-hara menyelimuti dua negara mulai dari ‘sigitan-lipadan’ merambah negara raja. huh,,,, sudah mulai pusing, tinggal 5 watt, biar itu jadi urusan mereka, sudah waktunya ku kata gudbay, gudnait, si yuu tumoro,,,,

11:11

Sepenggal percakapan antara dua tokoh dalam cerita itu. Mengeja, membaca, & menyuarakan suara yang tak tersuarakan. Ketika kepala sibuk berencana, melayang-layang dalam lamunan, seringkali kali kita tidak menyadari bahwa hati kita juga berbicara, dengan alam, dengan hati-hati yang lain, dan bahkan mungkin dengan malaikat.

,,, ,,, ,,,

X: “Bagaimana kita bisa tau sesuatu itu firasat atau bukan?”.

Y: ”Kamu harus cek ke dalam” (ucap si Y sambil meletakkan jari di dadanya), ”dan cek keluar. Pesan yangsama biasanya datang berulang. Lewat suara hati, atau gejala alam. Dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu”

X: ”lalu,,, kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan Firasat saya, lantas apa?”

Y: ”kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Jika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, Cuma bikin kamu lelah.”

X: ”perlukah saya memperingatkan orang lain?. Apakah ketika saya kasih peringatan kepada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal?”

Dan tiba-tiba Y berjalan ke arah X, duduk dihadapannya, dan menatapnya lekat-lekat.

Y: ”Batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kamu rasa perlu memperingatkan pasti kamu dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”

X tak bergeming, dalam hati ia berbisik, ”aku tau kamu menunggu sesuatu. Kamu menunggu apakah aku mampu mengatakannya. Dan kamu tahu aku berusaha semampuku, menyusun abjad firasat yang membanjir di hati ini dalam komposisi yang bisa diucapkan. Dan meski mulutku setengah membuka, hati ini mendesak ingin bercerita, tapi tak ada kata yang keluar. Satu pun tidak. Aku cuma menangis”

X: ”Lantas untuk apa seseorang tau sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa di ubah?”

Y: ”Sepertinya itu pertanyaan semua orang yang punya pengalaman dengan firasat”, ,,,, ”kita tidak tahu dan tak akan pernah tahu hingga semuanya berlalu. Benar-atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan hanya waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu untuk apa?, untuk apa tahu sebelum waktunya?” ,,, ”memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat justru menjadi siksa.”

X: ”jadi untuk apa??!!”

Y: ”untuk belajar menerima, belajar berdamai dengan diri, dengan hidup”

,,, ,,,, ,,,,

Percakapan selesai dalam hening. Mereka sibuk dalam kemelut pemikiran dan firasat masing-masing, yang mereka ketahui saling berhubungan.

<RectoVerso_’Firasat’>

NB:

Untuk saudara-saudaraku, terutama yang ada di daerah sekitar bendungan Situ Gintung. May Allah always help, protect n never stop 4 strengthening u all.

Untuk pemerintah, Plis,,, tolong. Buat apa Anda2 punya kekuasaan?? plis po’o,,, mana pelayanan Anda2 sekalian wahai tuan-tuan terhormat, yang lupa dimana letak kehormatan kalian.